Posted in Moms Stuff

Rapat Walimurid Pertama

Minggu lalu sebelum berangkat dinas ke kota Surakarta, saya menghadiri undangan rapat wali murid untuk pertama kali. Karena acara itu dilaksanakan di hari kerja yaitu hari Jumat, maka saya mengajukan ijin ke atasan untuk tidak masuk selama satu hari. Saya pikir, tak mengapalah. Setelah lebaran kemarin, saya dinas di kota Malang 10 hari. Hari Sabtu dan Minggu masuk. Tanpa jeda, lanjut terbang ke kota Banjarmasin. Sabtu dan Minggu juga masuk. Total sudah 3 minggu saya tidak libur hari Sabtu dan Minggu.

Hari Jumat tanggal 12 Agustus, saya sengaja meluangkan waktu menghadiri rapat wali murid pertama kali. Beginilah cara saya menjaga hidup tetap seimbang. Kadang kala urusan berbakti pada negara ada di prioritas pertama. Kadang di urutan kedua setelah keluarga. Akhir-akhir ini, saya lebih suka menyebut pekerjaan saya ini sebagai abdi negara dari pada pegawai kantoran. Tugas saya mengabdi pada Indonesia. Bukan mengabdi pada pemerintah, apalagi birokrat di kantor saya. Saya sedang belajar. Baru 2 tahun. Belum sepenuhnya melakukan yang terbaik.

Okay kembali ke topik. Saya bersama si kecil datang ke sekolah tepat pukul 7. Anak saya alhamdulillah setelah 1 bulan, sudah nyaman dengan guru-guru pengajarnya. Setelah salim tangan saya, si kecil langsung masuk ke gebang sekolah sendiri. Saya melihatnya dengan bangga. Bagi saya dengan usianya yang baru 3 tahun 11 bulan, rasa percaya diri anak saya sudah baik sekali. Penilaian ini saya dasarkan bukan dengan membandingkannya dengan anak orang lain. Saya membandingkan dengan diri saya sendiri sewaktu kecil. Waktu usia 3 tahun, saya belum sekolah. Saya sekolah hampir memasuki umur 5 tahun. Itupun kata si mbah yang nganter ke sekolah, saya nangis-nangis. Jadi bisa disimpulkan, anak saya ini sudah lebih hebat dari bundanya🙂

Setelah anak saya masuk kelas, saya melangkah menuju ruang rapat walimurid. Ruang rapat itu berupa selasar teras masjid. Memang sekolah anak saya berada satu kompleks dengan masjid. Yayasan yang menaungi sekolah anak saya, juga merupakan yayasan pengelola masjid.

Ketika jam menunjukkan pukul setengah delapan, wali murid sudah banyak yang berkumpul. Kepala sekolah yang masih muda, mungkin seumuran saya, memimpin jalannya rapat. Ada beberapa catatan saya tentang kurikulum di sekolah, dan juga beberapa agenda penting tahun ajaran ini.

Pertama tentang kurikulum, sekolah anak saya ini sebetulnya sudah bagus. Menganut kurikulum nasional untuk Paud(KB) dan TK. Di kurikulum itu tidak ada yang namanya calistung. Namun, karena tuntutan beberapa walimurid sendiri yang ingin anaknya diterima di beberapa sekolah negeri favorit, maka mereka ingin anaknya diajarkan calistung. Sekolah nampaknya memiliki pengalaman pernah disalahkan oleh warimurid yang anaknya tidak diterima di SD/MIN favorit. Sehingga mpihak sekolah pada akhirnya mengajarkan calistung.

Dari situ saya mengambil kesimpulan, bahwa anak saya nantinya juga akan dijarkan calistung. Saya sendiri tidak merasa keberatan. Mengapa? Hanya supaya tahu dan pernah mendengar saja. Saya tidak akan mengharuskannya supaya bisa. Saya membebaskannya belajar apa saja.

Namun ada beberapa aspek yang saya tekankan anak saya harus mampu.

  1. Mengamalkan doa-doa harian. Belum lancar hafal tidak mengapa, yang penting mengamalkan. Insyaallah lama kelamaan akan hafal. Jadi dalam hal doa harian, targetnya si kecil adalah bukan menghafal tapi mengamalkan.
  2. Ada 2 surah yang saya ingin dia hapal, Alhamdulillah sudah kenal sejak umur 2 tahun walaupun kadang masih lupa sepotong-sepotong. Yaitu Al Fatihah dan Al Ikhlas.
  3. Ada 2 hadist yang saya ingin dia pahami, yaitu hadist tentang berbuat baik dan menahan marah.
  4. Ada ketrampilan motorik yang saya ingin ia kuasai pada umur menjelang 4 tahun ini. Yaitu motorik halus menarik garis lurus dan lengkung.
  5. Ada keterampilan verbal yang saya harap dia kuasai di akhir pembelajaran paudnya, adalah keterampilan mengungkapkan perasaan. Rasa marah, sedih, senang. Selama ini dia sudah melakukannya dengan baik jika bersama saya. Namun bersama pembantu atau ayahnya masih kurang. Saya berharap, dengan bertemu guru – gurunya, ada hal yang bisa dia pelajari dan kembangkan terkait hal ini.
  6. Ada life skill yang anak saya bisa tingkatkan. Lebih mandiri dalam hal kebutuhan domestiknya sehari hari. Mengambil makanan/minuman sendiri. Mengelap tumpahan bekas makanan/minumannya. Dan memberesi mainan sendiri. Di sekolah pasti dilatih. Sedangkan di rumah, pembantu selalu melayani si kecil kalau saya tidak ada.

Saya akan menuliskan di buku penghubung anak saya target-target ini. Jadi gurunya tahu apa yang saya harapkan sebagai orang tua. Saya akan menyampaikan ke gurunya, bahwa saya tidak akan menyekolahkan anak saya di SD yang mengharuskan anak saya bisa ini itu untuk diterima. Saya lebih ingin anak saya bertambah mandiri dan kreatif dari pada pinter berhitung.

Untuk fungsi kognitif, insyaallah saat otaknya telah tumbuh sempurna nanti, fungsi kognitifnya akan berjalan seperti sunatullahnya. Dia akan cinta membaca karena dari umur 8 bulan sudah saya kenalkan pada buku-buku. Saya dan ayahnya adalah orang yang hidup dengan mengandalkan cara kerja otak kiri. Maka insyaallah buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Malah saya ingin, di sekolah dia lebih banyak belajar cara menjadi kreatif dan mandiri dalam memecahkan masalah.

Itulah catatan singkat saya setelah rapat wali murid pertama. Menulis di buku penghubung, merupakan pengalaman emosional. Saat saya merasa sangat beruntung dan bahagia, sudah jadi orang tua.

 

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s