Posted in Makaryo

Gundul gundul paculs

Saya dari SMP gak suka pelajaran IPS. Bahkan saking gak sukanya, saat lulus SMP saya milih melanjutkan ke SMK jurusan Teknik. Salah satu alasannya karena ingin memastikan gak ketemu lagi sama pelajaran: Ekonomi, Geografi dan Sejarah.

Ternyata eh ternyata, sekarang kudu bekerja di lingkungan orang-orang IPS. Kaya’nya kena karma. Haha….

Nah, kesalahan saya adalah waktu daftar CPNS kemaren saya gak mempelajari lebih dalam lagi mengenai instansi tempat saya mendaftar. Saya pikir, selama jabatannya relevan dengan pendidikan, gak masalah.

Saya daftar sebagai pengelola sistem dan jaringan komputer. Saya gak kepikiran bahwa latar belakang pendidikan orang sangat mungkin mempengaruhi cara berpikir. Bidang yang kami tekuni bertahun-tahun beda. Cara berkomunikasi kami, ternyata juga cenderung berbeda. Itu tantangan yang saya akui tidak mudah ditaklukkan. Bukan masalah tugas-tugas atau pekerjaannya.

Selama ini, saya kebanyakan ada di lingkungan orang ilmu eksak(teknik). STM Teknik Informatika. Sekolah Tinggi Teknik Informatika. Pasca Sarjana Ilmu Komputer Fakultas MIPA. Kerja di Administrasi Network Operation yang isinya cowok-cowok teknik semua. Ngajar mahasiswa Teknik Informatika. Menikah juga sama software engineer yang eksak abis. Semua pengalaman itu membuat saya jadi terbiasa ngomong to the point.

  • Faktanya apa.
  • Masalahnya dimana.
  • Bisa kasi solusi apa gak. Kalau bisa gimana solusinya. Kalau gak bisa apa alasannya.

Begitulah kira-kira kerangka kerja otak saya. Yang diomongin pak BJ Habibie di film Rudy Habibie tentang alur berpikir orang teknik, memang betul begitulah adanya.

Nah sekarang, mesti ngomong sama alumni-alumni pendidikan PPKn dan IPS. Alamak… Kolega saya di kantor, termasuk para pimpinannya, sering ngomong dengan bahasa bersayap. Mereka ngomong tentang hal A padahal maksudnya B. Dan yang dilakukan C. Bingung deh gue…. Huahuahua…. (Ketawa ngakak, guling-guling, tapi sambil nangis).

Menurut pengamatan, kolega saya di kantor ini banyak yang memang menguasai ilmu sosial. Ya iya lah, secara itu background pendidikannya. Saya kagum terhadap kepintaran mereka menyusun argumen yang menyentuh perasaan orang yang diajak ngomong. Nih saya kasi satu contoh yang paling berkesan.

Bisa loh orang itu gak dimarahi sama atasannya, padahal kedapatan sering gak nongol di kantor pas jam kerja. Kalau di swasta mungkin udah di SP. Ketika ditanyain, dengan sedikit menunduk dia bilang, alasannya sering gak ada di kantor adalah lagi ngawasin tukang-tukang bangun rumahnya.

Dia takut kalau tukangnya salah bangun gak sesuai harapan dia. Akibatnya dia bakalan rugi. Padahal uang bangun rumahnya dari hutang bank. Kalau harus bongkar, uang dari mana lagi. Dia menjelaskan, bahwa ukuran besi kalau ditunggui cuma sekian lonjor. Kalau ga ditunggui jadi tambah banyak lonjornya. Entah tukangnya salah potong atau karena tukangnya ga bisa dipercaya. Si pimpinan manggut-manggut. Okay… malah ngasi saran-saran berdasarkan pengalaman beliaunya si bapak pimpinan. Si bapak rupanya jadi berempati setelah mendengar argumentasi ini. Lupalah dia dengan masalah sebenarnya, yaitu anak buahnya sering madol.

Tak lama, masih dalam ruangan yang sama, si bapak pimpinan berpaling pada saya. Nanya soal web. Mengeluh kenapa webnya jelek, lebih jelek dari instansi lain. Dalam hati gue bilang: yah, kaga tau lah pak. Kan bukan saya yang bikin webnya. Kok komplain ke saya. Mau saya celetukin gitu, tapi tar si bapak pimpinan tambah benci sama saya. Padahal itu fakta lho. Bukan saya yang bikin web lama itu. Ngapain nanya ke saya kenapa jelek.

Saya waktu itu memang lagi bikin web yang baru. Tapi progresnya lambat sekali. Ini karena sama bapak pimpinan yang terhormat, saya sering di suruh dinas luar. Tahun ini saja sekitar 20 surat tugas sudah saya kantongi. Artinya dalam satu bulan rata-rata minimal saya pergi 2 kali. Lah, gimana mau jadi web nya. Belum lagi kerjaan tambahan bantuin kerjaan seksi lain. Aduh… pegimana ini. Bapak kira kerjaan coding web itu semudah bikin combro?

Sialnya lagi, saya gak biasa ngomong gitu. Rata-rata atasan di tempat kerja saya sebelumnya, orangnya smart yah. Jadi kalau ngasi tugas itu dia tau logikanya, beban kerja nih orang berapa task. Sial lah saya yang ga bisa ngecap ini. Lupalah bapak pimpinan ini, bahwa saya sudah pernah memohon diberi waktu untuk bisa konsentrasi ngerjain kerjaan saya. Gak terus-terusan di suruh bantuin kerjaan orang lain.

Lupalah ia bahwa saya sering dia dinaskan ke mana-mana. Pernah beberapa kali saya nolak dinas luar karena sudah keseringan. Disamping kerjaan saya sendiri terbengkalai, suami sudah mulai komplain.

Infentarisasi Lab gak selesai-selesai. Web gak selesai-selesai. Web lama konten jarang update. Jaringan gak tersentuh blas. Suami saya komplain. Saya yang terbiasa kerja sistematis, jadi merasa gak berguna. Padahal saya gak nganggur. Terus bekerja. Tapi kenapa kerjaan saya gak kepegang. Eh, ternyata jam kerja saya kemakan kerjaan buat nyelesaiin kerjaan orang lain. Gak apa-apa sih kalau pimpinannya nyadar dan gak mempermasalahkan terbengkalainya tupoksi saya. Lah ini, orang yang nugasin justeru yang paling sering nyalah-nyalahin. Lupalah bapak pimpinan ini terhadap kontribusi saya itu. Yang diinget adalah, saya yang ga mau di suruh-suruh. Alamak….

Satu lagi hal yang saya kagumi dari kolega saya di kantor. Yaitu “kebijaksanaan” yang dianut. Lebih baik berkomentar, berpendapat dan menjawab pertanyaan. Meskipun tidak menguasai bahan pembicaraan. Meskipun bukan bidangnya. Meskipun bukan kerjaannya.

Melihat itu, saya cuma bisa kaya orang gagu terkagum-kagum. Misalnya soal pengembangan IT, tanpa melihat fakta apa latar belakang pendidikannya, memberikan masukkan pada pejabat. Sialnya, yang dia diberikan cuma sebatas ide. Kenapa? Karena jangankan belajar teori analisis sistem, coding saja baru mau belajar. Masih cari les-lesan. Saya gak masalah sebetulnya dia mau ngomong gitu. Memang bisa buat bahan mengesankan pimpinan (yang ga paham IT). Tapi, permasalahannya, gue yang disuruh implementasi codingnya. Idenya dari dia. Gundulmu…. (ups). Kalau elu bisa, coding sendiri sono. Kalau sudah jadi karya, itu baru namanya solusi.

Kalau cuma ide, banyak bung. Saya juga punya ide-ide terhadap permasalahan IT di kantor. Karena itu ranah saya. Tugas saya. Tapi permasalahannya bukan karena gak ada ide. IT kantor gak berkembang karena gak ada SDM yang benar-benar fokus nangani itu. Saya yang bertanggung jawab masalah ini, tapi malah sering ditugaskan mengerjakan pekerjaan lain. Kalau nolak karena pengen fokus ngerjain tupoksi, dicap bawahan yang suka membangkang.

Solusinya gimana? Berikan saya waktu. Penuhi pengajuan analisis pengadaan hardware. IT is about 3 things: brainware, hardware and software. So simple. Tapi butuh komitmen dari semua pihak.

Kalau sadar kantor belum bisa setara lembaga lain dalam hal penerapan IT, jangan cuma ngiler dong. Ikuti jejak mereka yang serius. Bukan cuma mulutnya aja bilang pengen nerapin IT. Nuding bawahan yg tugasnya ngawal IT, nyalah-nyalahin kenapa kok gak maju-maju IT nya. Tapi lupa, bahwa masalah ini sering kali gak jadi prioritas. Pengajuan hardware Februari sampai mau masuk bulan September belum ada juga barangnya. OMG.

Pimpinan nyuruh ngembangin IT. Tapi brainwarenya disuruh jadi panitia keliling daerah. Akibatnya pengembangan softwarenya ga jadi-jadi. Hardwarenya gak kunjung dibeliin. C’mon… are u dumb?

Itu yang tadi saya bilang. Ngomong A, maksudnya B yang dilakukan C.

Mungkin ini catatan versi paling evil saya. Biarlah. Faktanya demikian.

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s