Posted in Makaryo

Team Work

Saya bukanlah orang yang suka bersosialisi. Sok pede dan sok akrab mingling sama orang yang baru dikenal bukan habit saya. Namun, jika sudah benar-benar klop, saya akan sering main ke rumahnya. Mengajak dia ke rumah saya. Tau hampir semua anggota keluarganya dan mengenalkan kedua orang tua saya. Teman saya hanya dalam hitungan jari. Tapi saya menyayangi mereka, meskipun saat ini kami hanya bisa bersua dalam doa-doa.

Di transkrip ijazah S1 saya, ada 1 nilai C. Nilai itu diberikan oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan yang juga adalah dosen pengampu mata kuliah Perilaku Dalam Organisasi. Karena nilai itu saya gak jadi dapat predikat Summa Cum Laude dari STIKI. Meskipun tetap lulus 3.5 tahun. Satu semester lebih cepat dari seharusnya. Bapak Waka Kesiswaan menilai saya kurang cakap Berperilaku Dalam Organisasi.

Ketika saat ini saya ternyata digariskan Allah untuk bekerja di Instansi Pemerintah yang tugasnya menyelenggarakan pelatihan (Training Center), saya dituntut bisa bekerja tim. Kantor saya sering sekali menyelenggarakan event. Setiap event pasti ada panitianya. Dan yang namanya panitia, pasti team work. Sungguh saya terkejut dengan diri sendiri. Tidak menyangka bisa. Tidak menyangka mau.

Jika saya tidak ingat bahwa saya ingin ilmu saya bermanfaat, ingin bisa ikut berbuat sedikit untuk dunia pendidikan, ingin ikut turun tangan, sungguh saya akan lebih sering merasa ingin resign dari lingkungan yang membuat saya tidak nyaman ini. Mungkin suatu saat saya akan resign. Tapi bukan karena saya give up atau kalah dari masalah.

Alhmadulillah, alhmadulillah, walhamdulillah.

Saya dapati sering kali justru merasa enjoy bekerja satu tim dengan orang-orang yang terpinggirkan. Orang-orang yang diremehkan atasan mereka sendiri. Orang yang katanya gak bisa kerja. Ingat ya, saya ulangi GAK bisa kerja. Bukan gak mau. Saya dapati, orang yang katanya gak bisa kerja itu ternyata mereka bisa kerja juga asalkan diberikan instruksi yang jelas, contoh yang nyata, praktek sambil diarahkan beberapa kali. Lebih dari itu semua, mereka perlu dipercayai.

Saya terkejut bahwa pada suatu kondisi kekurangan SDM, saya mampu membagi pekerjaan dengan tanggung jawab kontrol tetap di saya. Saya suka mengatur pekerjaan ini di kerjakan oleh siapa dengan cara bagimana. Di tim itu, bahkan seandainya terjadi kegagalan pun saya akan bisa jelaskan apa masalahnya dan mencari alternatif solusi. Karena saya tau awalnya, permasalahannya, dan how to breakdown the work order.

Namun, tidak semua kerja tim saya berhasil. Beberapa pekerjaan gagal, bahkan saya frustasi karena jadi sansak salah-salahan.

Itu ternyata saya sadari belakangan, kegagalan kerja tim itu justru saat saya bergabung dalam satu tim dengan orang-orang  yang dianggap orang lain pintar. Yang katanya best of the best team. Saat itu saya malah merasa tim tidak kompak, tidak saling percaya, saling sikut, saling curi ide. Dan tidak menghasilkan karya yang bermanfaat. Hanya sekedar memenuhi  hasrat menyenangkan atasan. Saya benci berada di tim seperti itu, apapun pekerjaannya.

Saya tidak peduli apakah itu pekerjaan bergengsi di depan Menteri atau Jendral Pethak sekalipun, saya lebih suka walk out. Menyingkir…. Biarlah dianggap gak bisa kerja, gak mau bantu, ini itu oleh atasan saya sendiri. Saya tidak membutuhkan pengakuan dari orang yang tidak kompeten di bidang saya. Saya gak berharap semua orang menyukai saya. Saya juga gak harus menyukai semua orang.

Saya juga sering mempertanyakan pekerjaan yang dilakukan tidak efisien. Saya membuka diskusi, tapi jika yang dibicarakan adalah alasan tidak masuk akal, opini bukan fakta, saya juga cenderung tidak respek. Saya beri kesempatan satu, dua dan tiga kasus. Setelah keempat, terulang hal yang sama, saya juga jadi kurang respek sama pimpinan tersebut. Apalagi jika berulang-ulang antara apa yang diomongkan sama yang dilakukan berseberangan.

Sombong kah saya? Saya lebih suka menyebut itu sebagai sikap kritis, tidak “Yes Man”.

Saya bukan orang yang pintar berorganisasi, tapi saya telah membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya bisa bekerja tim. Asal profesional. Tujuannya yang ingin dicapai jelas, bermanfaat, dan rekat satu timnya bisa dipercaya.

Ini saya. Boleh jadi benar, bisa jadi salah.

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s