Posted in Makaryo

Ironi

Suatu sore sepulang kerja saya melewati sebuah lokasi persawahan. Di atasnya berdiri tower listrik tegangan tinggi dengan kabel sambung menyambung. Tepat di bawah juntaian kabel itu berdirilah beberapa spanduk yang diikat pada bilah bambu. Tertulis: Safe Regency. Ya, nampaknya lokasi persawahan itu akan segera jadi kapling-kapling rumah baru. Di bawah tower jaringan listrik tegangan tinggi. Nama perumahannya mengandung kata “safe” yang artinya aman. Saya melihat ini sebuah ironi yang lugu. Bagaimana mau aman kalau rumahnya dibawah tower listrik tegangan tinggi?

Pemandangan ini mengingatkan diri saya akan ironi lugu lain yang dekat sekali dengan hidup saya saat ini. Saya jadi PNS niatnya pengen berbuat sesuatu buat negeri, tapi pada kenyataannya ada beberapa tugas yang saya tolak. Sebagian karena saya tidak mau. Sebagian karena saya memang tidak bisa. Ironi. Bagaimana mau berbuat sesuatu untuk negeri, kalau PNS dikasi surat tugas tidak mau berangkat?

Saya hanya seorang manusia sederhana. Bingung dengan segala drama yang dimainkan oleh orang-orang di sekeliling saya akhir-akhir ini. Merasa gagap dan gagal paham alur berpikir rekan kerja dan juragan.

Sampai akhirnya saya dapat pencerahan setelah nonton film Rudy Habibie. Apa itu? Soulnya orang teknik itu Problem Solving. Faktanya apa. Masalahnya apa. Lalu berpikir solusinya bagaimana.

Belasan tahun gaul sama orang teknik, sangat mempengaruhi cara kerja otak ini. Ketika orang lebih lama membahas dan menceritakan masalah, membuat drama-drama, saya bingung karena faktanya mulai nge-blur. Masalah sebenarnya juga mulai nge-blur. Terlalu banyak drama.

Solusi bukanlah prioritas untuk dicari. Daya serap dan daya serap selalu setiap hari. Dinas luar wara wiri adalah prestasi. Dan bukan kompetensi, yang penting eksis. Tak peduli tugas pokok dan fungsi. Tak perduli sasaran kinerja pegawai. Masa bodo analisis beban kerja. Masa bodo efisiensi dan efektifitas. Tak ada objektifitas penilaian kinerja, subjektifitas. Mesti multitalenta katanya, biar juragan seneng. Kalau perlu bisa diajak karaoke.

Saya belum bisa berbuat banyak untuk ibu pertiwi. Saya hanya berjanji tidak akan mau berangkat perjalanan rapat2 dinas, yang cuma buat menambah daya serap. Biarlah…. Saya gak disukai juragan. Gak dianggep berpestasi. Biarlah….

Saya selalu ingin mengkritisi masalah perjalanan dinas ini. Haruskah sedikit-sedikit pertemuan di hotel, saat teknologi video converence sudah ada. Yang hanya dengan bayar 1 juta per titik, bandwidth 1MB per titik, saluran video converence sudah bisa dinikmati 24 jam sehari, 7 hari seminggu non stop.

Benar saya punya kepentingan pribadi dalam opini ini. Putri kecil saya tidak rela ibunya sering perjalanan dinas ke mana-mana. Boleh lah kalau misalnya tiga bulan sekali pergi, lah ini…. tuntutannya kadang satu bulan non stop. Oh Em Ji….

Hati nurani saya selalu bilang. Something’s going wrong.

Serasa melihat orang ramai-ramai menyeberang sungai yang arusnya tenang dan nyaman. Tapi saya gak mau ikut nyebur dan berjalan ke seberang. Sesuatu dalam diri saya bilang: ada yang salah. Tapi belum tahu pasti bagaimana bersuara menjelaskannya. Rekan kerja menganggap saya aneh. Juragan mengatakan saya tidak loyal karena tidak mau nyebur padahal sudah diperentah oleh mereka untuk buruan nyebur.

Ini kegelisahan saya. Bisa jadi benar, bisa jadi salah.

Masalahnya, berdasarkan pengalaman kerja saya sebelumnya, yang pindah-pindah instansi itu. Yang kalau di kalkulasi adalah 5 tahunan. Saya merasa dapat pelajaran berharga. Yakni: jika hidup seseorang tidak berkualitas, maka ia tidak akan menghasilkan karya yang berkualitas. Jika karyawan tidak memiliki waktu seimbang untuk pekerjaan, keluarga dan juga waktu untuk mengembangkan diri, hanya dituntut sendiko dawuh, maka bisa dipastikan ia tidak akan melahirkan karya yang berkualitas. Jikapun ada, harga yang harus dibayar akan sangat mahal. Kehilangan banyak waktu untuk orang tercinta. Bisa jadi, malah kehilangan cinta mereka.

Beberapa orang saya dengar berargumen, PNS laksana tentara. Harus siap ditempatkan di mana saja. Harus siap berangkat kapan saja. Saya lalu bertanya, apakah tentara yang harus bersedia ditempatkan di mana saja itu ada yang berjenis kelamin perempuan? Berapakah jumlahnya? Apakah dalil ini bisa dipakai?

Entahlah, kegelisahan saya ini bisa jadi benar. Bisa jadi juga salah.

Tetap berkarya sesuai tugas pokok dan fungsi, itulah satu-satunya pegangan saya saat ini. Terus ingin mengembangakan diri sesuai potensi saya, berbuat yang terbaik dengan potensi itu. Masalah juragan seneng apa enggak biar saja. Saya memang gak bisa karaoke.

🙂

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s