Posted in Moms Stuff

Pujian dan Penyembelihan

Memasuki hari ke 21 Ramadhan 1437H, rasanya kurang pas jika tidak memaksimalkan ibadah di hari-hari terakhir Ramadhan ini. Belum tentu juga bertemu dengan Ramadhan tahun depan. Memperbanyak pujian kepada Yang Maha Agung sangat disarankan oleh Rasulullah. Wahai Yang Maha Membolak Balikkan Hati, tetapkan hati ini pada Agama mu.

Kesempatan kali ini, pengen bahas soal puji memuji. Apakah anda orang yang suka dipuji? Atau Anda orang yang royal memuji orang lain?

Beberapa praktisi psikologi anak menyarankan supaya orangtua tidak pelit pujian kepada anak. Pujian ketika si anak melakukan kebaikan, konon katanya merupakan dorongan positif yang dapat meningkatkan rasa percaya diri si anak.

Saya sepakat dengan teori di atas. Namun, dalam dunia orang dewasa tidak selamanya pujian itu berarti baik. Dalam dunia orang dewasa, kehidupan menjadi sangat kompleks. Anda harus hati-hati jika dipuji orang, terutama di dunia kerja.

Di dunia orang dewasa, lebih khusus lagi di lingkungan kerja, seorang memuji orang lain tak jarang karena ada maunya. Ada udang di balik rempeyek. Tidak selamanya seperti itu sih. Tetapi lingkungan kerja erat kaitannya dengan kompetisi. Perjuangan untuk bisa eksis dan menunjukkan prestasi. Lalu, ada orang memuja muji orang lain? Apalagi jika ada rekan kerja yang tidak punya kompetensi untuk menilai hasil pekerjaan Anda, tapi berani bilang keren bagus dst dsb….. Hati-hati ya. Bisa jadi itu karena ybs mau minta tolong. Tidak masalah jika memang itu pekerjaan anda. Tidak masalah jika anda memang ikhlas membantu. Tapi sadarilah posisi Anda, jangan sampai tidak sadar dan kemudian merasa dimanfaatkan.

Saya pernah baca petikan ini, tapi lupa dari siapa quote tsb.

Pujian itu penyembelihan

Kenapa disebut penyembelihan? Menurut saya, orang yang dipuji itu bisa lupa diri. Lupa kalau tidak ada daya dan upaya selain dengan ijin Allah. Merasa bisa karena dirinya, bukan karena ijin Allah. Ini bahaya….

Saya, termasuk orang yang sulit menimpali jika ada orang yang memuji. Bukan karena senang sampai ga bisa ngomong, tapi karena saya mikir orang ini muji apa maksudnya. Hehe…. Apakah berpikir begitu itu selalu baik? Tidak juga, bisa terjebak di suuzhan. Berburuk sangka.

Lantas bagaimana?
Kalau saya, saya masih terus belajar untuk senantiasa inget buat bilang “Alhamdulillah”  sambil dalam hati bener-bener inget bahwa “Segala puji hanya milik Allah”

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s