Posted in Makaryo

Solitude: Wisdom vs Perfection

Saya masih sering bertanya-tanya, apa hikmah dibalik 3 kali ikut tes rekrutmen pengajar (baca: dosen) di PTN tidak tembus-tembus. Padahal jadi dosen PTN adalah satu hal yang pengen banget saya capai waktu itu. Berbagai ikhtiar sudah dikerahkan. Tak kurang juga biaya dan waktu yang telah dihabiskan.

Yang paling ekstrim tentu yang paling asik diceritakan di sini :-)  Saat  ada panggilan tes kompetensi dasar CPNS tahun 2012, saya baru melahirkan. Saya melamar sebagai Dosen Kecerdasan Buatan di salah satu PTN. Saya berusaha tetep bisa hadir tes tulis di hari ke 5 pasca operasi cesar. Jaitan masih basah, perban belum di buka. Dan ASI sedang full. Nyut-nyutan dan rembes ke baju. Tetep dijalanin dengan hepi, karena support dari keluarga yang juga luar biasa besar.

Ini yang coba saya cari tahu adalah hikmahnya ya. Bukan alasan kenapanya…🙂 Apa bedanya hikmah sama alasan?

Kalau alasan saya gak lolos, bisa jadi karena kemampuan saya memang berada di bawah standar penerimaan pengajar di PTN itu. Jadi meskipun saya sudah lolos tes kompetensi, saya juga lolos tes bahasa Inggris yang pakai TOEFL internet base ituh… Tapi giliran masuk tahap wawancara, saya gagal. Artinya saya emang dinilai panitia gak masuk kriteria mereka. Makanya saya gak dilolosin.

Tapi hikmah adalah sesuatu yang spesial. Ia khusus dicreate sama Tuhan buat saya. Hikmah kenapa saya akhirnya ga bisa jadi dosen di PTN. Padahal saya pengen… pengen banget, waktu itu. Apa ya hikmahnya?

Buat orang kaya’ saya, yang jaman sekolah suka duduk di deret bangku paling depan, dapat hadiah kalau masuk 10 besar, suka ikut lomba bidang studi, bahkan sampai sekarang masih pengen ikut acara quiz Rangking 1 di TV buat sekedar pengen tau apa saya masih bisa “rangking 1”, adalah hal yang indah bisa memenangkan sebuah kompetisi. Kalian para petualang, andrenalin kalian hidup saat arung jeram, panjat tebing, paralayang atau hiking. Bagi saya, adrenalin itu saat bisa menaklukkan suatu tantangan akademis. Merasa happy bisa berada diatas rata-rata orang dalam satu kelas, dengan cara yang sportif. Bagi saya melihat angka 9 itu nyesel. Angka 10 baru: Perfect.

Awal-awal masuk di kantor, dengan masih aura kompetisi yang menyala, saya berusaha sebaik-baiknya menyelesaikan setiap tugas yang diberikan. Menetapkan standar satu garis diatas standar boss. Saya masih berpikir seperti di tempat kerja lama, yang bosnya pasti nyadar kalau hasil kerja anak buahnya di atas rata-rata. Masih nyangka temen-temen kantornya gak bakalan nganggap aneh dan gak bakal nganggep “sok kerajinan”. Well, saya kira begitu. Sampai akhirnya, saya nyadar bahwa it’s useless doing that method. Saya kehilangan momen indah dengan anak dan suami hanya karena nurutin perjalanan dinas yang seakan gak ada abisnya. Bener saya bisa sering pergi ke mana-mana naik pesawat. Sering makan makanan hotel. Tapi saya gak heppy. Pengen nyenengin boss dengan pencapaian kinerja super sama seperti dulu pengen nyenengin ortu dengan prestasi akademik di bangku sekolah, bukanlah hal yang bijak🙂

Well, saya akhirnya tersadar bahwa masa-masa adrenalin yang seperti itu sudah berlalu. Masa-masa ingin menaklukkan sesuatu hanya karena ingin merasakan sensasi “Perfect”. Saya dipaksa belajar untuk melepaskan hal-hal tertentu, membiarkannya lewat dari hidup saya sekarang. Apakah itu mudah? Well, it’s like hell. Saya sedih, frustasi, berkali-kali dimarahin suami. Haha… well, I’m blessed to have him. Mengajari saya bagaimana seharusnya saya bersikap di tempat kerja, meskipun pada akhirnya saya memodifikasi  beberapa ajaran-ajaran suami saya yang “enggak saya banget”.

Saya mulai berpikir, mungkin ini salah satu hikmahnya ya. Dengan saya gak kesampaian jadi dosen AI di PTN itu, saya jadi PNS juga tapi praktisi IT. Saya dulu kebanyakan belajar teori, kini saatnya praktek. Di kantor yang sekarang, saya belajar hal-hal diluar perkara teknis. Yang dulu mungkin gak kepikiran sama sekali. Misalnya, bahwa memiliki kompetensi sesuai job desc saja tidak cukup. Perlu punya keahlian mengendalikan emosi menghadapi orang ngelamak dan sotoy. Perlu punya keahlian strategi dan negoisasi. Gak perlu baper dalam urusan kerjaan. Belajar menekan ego karena kadang harus rela dikira gak kompeten hanya karena gak mau ditambahin kerjaan. Hahaha…. and so on…

Well, saya kira sekarang adalah saatnya saya belajar to be Wise. Not always to be Perfect. Kenapa? Karena saya sadar, there something better than perfection. Sekarang, saya melewatkan banyak kesempatan “menonjol” dan tampil di depan panggung. Saya mikir banget jangka panjang setiap keputusan atau tindakan yang saya ambil terutama yang ada kaitannya dengan pekerjaan. Saya sudah tidak lagi butuh pengakuan akan kompetensi akademis. Saya tidak ingin menjadi wanita yang ambisius akan karier. Saya hanya ingin berkarya, entah itu besar atau kecil. Entah itu dianggap penting atau tidak.

Di dunia kerja, seringkali orang yang dianggap paling berprestasi adalah orang yang akan paling sibuk. Ia akan diberikan tanggung jawab yang lebih banyak dari orang lain, yang otomatis harus mengerahkan lebih banyak waktu dari pada karyawan lain. Waktu, adalah sesuatu yang mahal bagi saya sekarang. Pulang tepat waktu dan sebisa mungkin menghindari perjalanan dinas, adalah fase hidup yang sedang saya jalani saat ini.

Yang pengen saya bilang disini bukanlah, saya pengen jadi karyawan males dan makan gaji buta ya. Seperti yang pernah saya bilang di catatan sebelumnya, bahwa hal yang indah dalam pekerjaan adalah jika kita bisa ngerjain yang kita sukai dan dibayar. Saya ngerjain kerjaan saya sesuai dengan peraturan menteri pendidikan lho. Yang keren kerja di Kemendikbud adalah, jobdesc saya sudah ada dasar hukumnya yang jelas. Ada PERMEN-nya. Di situ diuraikan apa kewajiban-kewajiban saya. Saya memenuhi itu, dan kadang-kadang masih menetapkan segaris diatas standar. Saya happy, karena saya melakukannya tidak untuk menyenangkan orang. Saya happy karena yang saya lakukan terukur dan benar menurut dasar yang kuat. Saya happy karena masih bisa punya banyak waktu bagi keluarga tapi masih bisa jawab dengan bangga kalau ada orang yang nanya selama sekian waktu kerja di sini apa kontribusi saya. Terutama karena saya PNS dan digaji pakai APBN. Yang mana APBN itu sebagian besar dananya dari pajak. Dan pajak dipungut dari uang rakyat.

Ah iya, jadi inget. Kemarin tgl 7 Juni 2016, salah satu topik Indonesian Morning Show di .Net TV adalah wacana Rasionalisasi PNS. Dimana akan ada sekitar 1 Juta PNS yang akan terkena dampaknya. Entah itu dimutasi atau dipensiun dini karena dianggap sudah tidak bisa lagi dikembangkan potensinya.

Nah, salah satu narasumbernya, saya lupa siapa namanya. Dia bilang gini: “PNS itu tidak perlu terlalu pintar. Yang penting adalah orang yang mau melakukan pengabdian”. Narasumber itu mencontohkan, seorang PNS penjaga mercusuar di pulau terluar Indonesia. Dia tidak perlu terlalu pintar. Yang penting dia mau mengabdi. Kalau gajinya telat beberapa bulan, dia tidak pulang. Susah kalau dia mentalnya karyawan swasta. Tidak digaji dia akan pulang.

Well, pada saat diklat prajabatan dulu. Saya ingat, salah satu sesi tentang Kepegawaian, pengajar diklatnya bilang gini: “Dengan diberlakukannya UU Aparatur Sipil Negara (ASN) yang baru, akan terjadi perbedaan besar terhadap kultur pegawai sipil di lingkungan pemerintahan.”

Pada intinya yang dia sampaikan adalah profesionalisme. Setiap  pegawai akan jelas jabatannya. Untuk menduduki jabatan itu, ada persyaratannya. Mungkin persyaratan masa kerja atau latar belakang pendidikan. Pemerintah semakin membenahi sistem penggajian PNS. Sehingga, pemerintah juga memiliki tuntutan yang lebih tinggi terhadap karyawannya. PNS harus menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan baik. Ada tunjangan kinerja, yang masing masing orang besarnya bisa berbeda-beda tergantung kinerjanya setiap bulan. Terhadap tugas-tugas tambahan, ASN berhak menolak jika memang ybs merasa tidak mampu mengembannya. Sampai sekarang saya meyakini hal ini dan menjadikannya dasar dalam bekerja. Kenapa? ya karena itu materi diklat prajabatan saya. Diklat yang mengajari saya apa saja yang perlu saya ketahui sebelum jadi PNS (waktu ikut diklat prajabatan, saya masih CPNS).

Aduh kok jadi ngelantur ke mana-mana ya…

Saya pikir, bijaksana adalah melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang. Kadang-kadang, bijaksana juga berarti menetapkan skala prioritas. Kadang, ia juga bisa berarti melewatkan kesempatan yang kita pikir “emas”. Hanya karena tau, “not everything glitter is gold”.

 

 

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s