Posted in Makaryo

Hal yang indah dalam pekerjaan (part 1)

Apa yang indah dalam pekerjaan….??

Bagi saya, yang indah dalam pekerjaan itu jika:

  1. Bisa mengerjakan yang disukai dan dibayar
  2. Bisa memilih tidak mengerjakan yang tidak sukai dan tidak dihukum

Dua hal di atas itu jika bisa dirasakan dalam pekerjaan akan terasa sangat nikmat. Terutama bagi para karyawan.

Saat awal bekerja di instansi tempat saya bernaung sekarang, saya sedikit kaget melihat beberapa fakta. Salah satunya, fakta bahwa peran setiap orang tidak ditentukan oleh organisasi. Melainkan, orang berusaha menciptakan/memilih perannya sendiri-sendiri.

Hal ini berbeda dari pengalaman kerja saya sebelumnya, dimana perusahaan akan menentukan dengan jelas peran setiap karyawan, bahkan sebelum orang itu direkrut peran itu sudah ditetapkan. Peran ditetapkan berdasarkan tujuan organisasi/perusahaan.

Nah, ketika perusahaan melakukan rekrutmen karyawan baru, mereka tinggal menyeleksi dari para pendaftar. Siapa yang paling cocok dengan peran itu. Setelah dinyatakan diterima, karyawan memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas.

Secara umum, karyawan di perusahaan dinyatakan berprestasi jika bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik, benar dan tepat waktu. Bahkan akan mendapatkan bonus jika melampaui targetnya. Entah itu target waktu (pekerjaan selesai lebih cepat), maupun target output (client sangat puas, angka penjualan meningkat, dll).

Di tempat saya bekerja saat ini agak unik, jika tidak boleh dibilang aneh. Orang bisa menentukan dia ingin berperan apa. Ingin mengerjakan apa dan ingin dianggap ahli di bidang apa. Istimewanya lagi, tetap dibayar penuh.

Memang betul setiap awal tahun ada kontrak kerja, yang berisi uraian jabatan alias job description masing-masing orang. Namun, pada kenyataannya sehari-hari, orang bisa saja memilih hanya mengerjakan pekerjaan yang ia sukai saja. Dan sekali lagi saya sebutkan: Tetap di bayar penuh.

Luar biasa bukan🙂

Misalnya, ada orang yang gemar memotret. Setiap kegiatan kantor dia mendokumentasikan. Selain memotret, ia tidak mengerjakan pekerjaan yang lain. Meskipun di uraian jabatannya ada pekerjaan lain selain mendokumentasikan kegiatan, atau bahkan pun jika di uraian jabatannya tidak ada pekerjaan dokumentasi,  orang itu tetap akan dibayar penuh. Ia malah akan dianggap ahli fotografi.

Contoh lain, jika ada orang yang suka utak atik komputer dan download software. Kemudian ia rajin memperbaiki komputer kawan-kawannya di kantor. Meskipun di uraian jabatannya tidak ada tugas trouble shooting komputer, orang itu tetap dianggap ahli IT. Ia tetap dibayar penuh meskipun beberapa pekerjaan wajibnya sendiri malah tidak rampung.

Yang saya lihat, di sini orang boleh memilih mengerjakan sesuai keinginannya masing-masing dan ia akan dianggap ahli di bidang itu.

Indah sekali ya bekerja di sini🙂

Namun, jika saya pikir lagi, muncul pertanyaan:

Kenapa ya di beberapa perusahaan besar, peran setiap karyawan terdefinisi dengan jelas. Bahkan ada reward dan punishmen yang jelas juga terkait ketuntasan pekerjaan. Kenapa ya?

Bagi saya yang orang awam teori dan praktek manajemen, karena tidak pernah sekolah di jurusan itu, pun juga belum pernah jadi manager, pertanyaan di atas memang bukan kapabilitas saya untuk menjelaskan.

Tapi di blog saya ini, yang saya bebas mau nulis apa saja asal ga sebut nama merk atau nama orangnya, saya bebas saja menganalisa.

Dari kacamata saya yang beberapa SKS pernah belajar tentang pengembangan sistem, perusahaan/organisasi/lembaga/instansi apapun jenisnya adalah sebuah sistem. Jika demikian, maka ia sudah pasti merupakan kumpulan dari komponen/elemen2. Seluruh karyawan adalah bagian dari sistem. Karyawan adalah komponen/elemen sistem.

Sebuah sistem dikatakan baik jika memiliki komponen/elemen yang jelas definisi peran dan fungsinya. Mengapa? Ya supaya sistem itu jalan sebagaimana mestinya. Jika elemen/komponen tidak memiliki tugas dan fungsi yang jelas, akan rawan terjadi overlaping yaitu satu pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan lagi oleh orang lain. Bahkan untuk tugas/pekerjaan yang dianggap sulit, seluruh karyawan bisa saja menolak mengerjakan. Akhirnya, pekerjaan tersebut tidak ada yang menangani.

Jika pekerjaan gagal, tidak sesuai target, tujuan tidak tercapai maka sesama karyawan akan mudah saling menyalahkan. Sulit untuk benar-benar tahu, apa penyebab kegagalan dan siapa yang bertanggung jawab. Terhadap pencapaian prestasi, karyawan akan saling mengklaim menjadi yang paling berjasa dan berprestasi demi mengambil hati atasan. Pimpinan/atasan akan sulit menilai dengan objektif prestasi karyawan karena tidak tahu siapa berkewajiban mengerjakan apa.

Saya sendiri, apa yang selama ini saya lakukan di kantor? Apakah saya mengerjakan pekerjaan sesuai uraian jabatan atau tidak?

Inilah yang sejak semula saya sekolah sampai bekerja selalu ditekankan oleh ibu saya. Ibu saya selalu bilang, sekolah yang tekun. Semua hal yang diajarkan di sekolah itu bisa dipelajari. Akhirnya, saya selalu mengambil jurusan linier sejak SMK. Bisa dibayangkan ya: SMK-S1-S2. Jurusannya serumpun: Tenik Informatika – Teknik Informatika/Sistem Informasi – Ilmu Komputer.

Kemudian, saat mencari kerja, ibu saya bilang:

Cari kerja yang sesuai dengan jurusannya di sekolah. Kalau perlu, tidak kerja di kampung halaman juga tidak apa-apa. Asalkan ilmu kamu kepake, ga hilang.

Akhirnya, terdamparlah saya di sini, di ruang Data Center, yang meskipun masih dalam tahap merintis menerapkan TIK di sini, jabatan saya: Pengelola Sistem dan Jaringan. Job Desc nya ya sesuai banget sama ilmu yang dipelajari di bangku sekolahan.

Apakah ini passion saya, apakah ini minat saya? Saya bisa bilang: iya! Dan saya bersyukur bisa bekerja dengan jabatan, tugas dan tanggung jawab sesuai dengan latar belakang pendidikan dan passion. Artinya, setiap terima gaji di awal bulan dan tunjangan kinerja di akhir bulan, alhamdulillah saya bisa bilang saya menyelesaikan job desc saya dan itu rewardnya.

Kadang-kadang saya menolak membantu mengerjakan pekerjaan orang lain, meskipun efek sosialnya panjang. Saya tetap fokus pada penyelesaian pekerjaan/tugas pokok saya di kantor, walaupun kadang pekerjaan itu dianggap tidak urgent alias tidak penting. Saya hanya perpedoman, kata tidak penting itu relatif. Relatif terhadap waktu: tidak penting saat ini, bisa jadi sangat penting minggu depan. Relatif juga terhadap orang: siapa yang bilang pekerjaan saya tidak penting? Bisa jadi dia adalah orang yang tidak bisa menuntaskan pekerjaannya sendiri lantas minta bantuan dengan cara mendesak orang lain.

Inilah 2 hal pertama yang saya anggap indah di dunia kerja: Bisa mengerjakan yang disukai dan dibayar; DAN bisa memilih tidak mengerjakan yang tidak sukai dan tidak dihukum.’

🙂

 

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s