Posted in Moms Stuff

Ibu Bekerja: Sebuah Isu yg Hangat

Suatu pagi, ketika sedang menunggu motor di service di bengkel, saya membaca pesan masuk di WA. Pesan itu berasal dari group kawan-kawan STM yang khusus berjenis kelamin perempuan. Ya, kami sengaja membentuk group itu dengan tujuan yang lebih eksklusif daripada sekedar bertanya kabar sesama alumni. Kami ingin berbagi segala masalah seputar wanita, dengan lebih aman karena tidak bercampur dengan komunitas bapak-bapak.

Di situ, teman saya menulis yg pada intinya begini: “Jika menitipkan perhiasan ke orang lain, kita merasa tidak rela. Mengapa anak yang lebih berharga dari pada perhiasan dititip-titipkan?”

Sedikit tersinggung saya. Ah… lagi baper rupanya.

Saya ketik disitu: “Seorang ibu, normalnya pasti ingin bersama dengan buah hatinya sepanjang waktu. Tapi terkadang karena satu dan lain hal maka ia menitipkan anaknya beberapa jam dalam sehari. Kondisi masing-masing keluarga tidak sama. Mari saling menghargai, dengan tidak mendiskusikan sesuatu yang membuat ketidaknyamanan. Misalnya: ibu bekerja di sektor formal vs ibu wirausaha. Ibu melahirkan normal vs SC. Ibu ASI vs SUFOR vs MIX. dst…. Semua ibu normalnya pasti sayang anak. Tapi jika ada seorang ibu yang berusaha menakar besar kecilnya kasih sayang ibu yang lain, itu bisa jadi masalah.”

Penulis pesan WA yang mengingatkan saya (dan semua wanita bekerja lain di group itu), adalah sahabat baik saya selama STM. Kami sudah terbiasa berdiskusi bahkan berdebat tanpa kemudian menyimpan dendam. Saya sangat menghormati pemikiran-pemikirannya.

Apa yang ingin saya sampaikan disini adalah, isu tentang kasih sayang ibu bekerja yang lebih sedikit dari pada ibu rumah tangga, beberapa tahun terakhir ini menghangat. Menjadi rahasia umum, bahwa sesama wanitapun seakan “menikmati” perdebatan ini. Terbukti, beberapa wanita secara terbuka melemparkan isu ini dalam forum, group ataupun menulis ekslusif di wall sosmed orang lain. Meskipun, saya yakin ia tau pasti bakalan ada yang merasa sedih atau bahkan tersinggung. Siapa sih ibu yang tidak sedih bahkan tersinggung kalau kasih sayangnya ditakar?

Dan saya rasa yang paling sering dikritisi di sosmed, adalah fenomena ibu bekerja kantoran (sektor formal) yang jam kerjanya pasti. Rata-rata 8 jam sehari. Padahal, jika wanita itu bekerja di sektor informal pun, memiliki keterbatasan waktu bersama anak. Jika tidak bisa mengatur waktu, malah bisa jadi jam kerjanya lebih panjang.

Bayangkan, ibu penjual gudeg yang tidak memiliki karyawan. Mulai dari belanja, masak sampai melayani pelanggan dikerjakan sendiri. Saya pernah makan di warung Mie Goreng Jawa yang ibu penjualnya punya dua orang anak yang masih kecil. Keduanya ditidurkan di dalam box, persis didekatnya memasak. Saat itu sekitar ba’da Isya. Si anak yang bosan mulai mencari kegiatan, yang pastinya akan menggangu si ibu yang lagi memasak. Si anak dibentak dan menangis sejadi-jadinya. Saya dan suami yang sedang makan, jadi merasa kurang nyaman.

Ibu adalah seorang ibu. Pasti sayang anaknya, meskipun kadang belum bisa sempurna. Saya sangat menghargai perjuangan si ibu penjual Mie Goreng Jawa, yang menempatkan buah hatinya di sebelahnya sepanjang hari. Meskipun disambi berbagai aktifitas. Saya tidak akan mengkritik cara beliau membesarkan anaknya. Saya juga tidak mau mengurusi apakah ia sudah belajar teknik parenting yang baik atau tidak.

Menjadi ibu itu insting. Sesuatu yang primordial bagi wanita. Saya sangat menghargai mereka, apapun pilihan profesinya. Tapi saya sering merasa tidak bisa tinggal diam, jika ada ibu yang menakar kasih sayang ibu yang lain. Kenapa tega?

 

Author:

Just Me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s