Posted in Makaryo

Gundul gundul paculs

Saya dari SMP gak suka pelajaran IPS. Bahkan saking gak sukanya, saat lulus SMP saya milih melanjutkan ke SMK jurusan Teknik. Salah satu alasannya karena ingin memastikan gak ketemu lagi sama pelajaran: Ekonomi, Geografi dan Sejarah.

Ternyata eh ternyata, sekarang kudu bekerja di lingkungan orang-orang IPS. Kaya’nya kena karma. Haha….

Nah, kesalahan saya adalah waktu daftar CPNS kemaren saya gak mempelajari lebih dalam lagi mengenai instansi tempat saya mendaftar. Saya pikir, selama jabatannya relevan dengan pendidikan, gak masalah.

Saya daftar sebagai pengelola sistem dan jaringan komputer. Saya gak kepikiran bahwa latar belakang pendidikan orang sangat mungkin mempengaruhi cara berpikir. Bidang yang kami tekuni bertahun-tahun beda. Cara berkomunikasi kami, ternyata juga cenderung berbeda. Itu tantangan yang saya akui tidak mudah ditaklukkan. Bukan masalah tugas-tugas atau pekerjaannya.

Selama ini, saya kebanyakan ada di lingkungan orang ilmu eksak(teknik). STM Teknik Informatika. Sekolah Tinggi Teknik Informatika. Pasca Sarjana Ilmu Komputer Fakultas MIPA. Kerja di Administrasi Network Operation yang isinya cowok-cowok teknik semua. Ngajar mahasiswa Teknik Informatika. Menikah juga sama software engineer yang eksak abis. Semua pengalaman itu membuat saya jadi terbiasa ngomong to the point.

  • Faktanya apa.
  • Masalahnya dimana.
  • Bisa kasi solusi apa gak. Kalau bisa gimana solusinya. Kalau gak bisa apa alasannya.

Begitulah kira-kira kerangka kerja otak saya. Yang diomongin pak BJ Habibie di film Rudy Habibie tentang alur berpikir orang teknik, memang betul begitulah adanya.

Nah sekarang, mesti ngomong sama alumni-alumni pendidikan PPKn dan IPS. Alamak… Kolega saya di kantor, termasuk para pimpinannya, sering ngomong dengan bahasa bersayap. Mereka ngomong tentang hal A padahal maksudnya B. Dan yang dilakukan C. Bingung deh gue…. Huahuahua…. (Ketawa ngakak, guling-guling, tapi sambil nangis).

Menurut pengamatan, kolega saya di kantor ini banyak yang memang menguasai ilmu sosial. Ya iya lah, secara itu background pendidikannya. Saya kagum terhadap kepintaran mereka menyusun argumen yang menyentuh perasaan orang yang diajak ngomong. Nih saya kasi satu contoh yang paling berkesan.

Bisa loh orang itu gak dimarahi sama atasannya, padahal kedapatan sering gak nongol di kantor pas jam kerja. Kalau di swasta mungkin udah di SP. Ketika ditanyain, dengan sedikit menunduk dia bilang, alasannya sering gak ada di kantor adalah lagi ngawasin tukang-tukang bangun rumahnya.

Dia takut kalau tukangnya salah bangun gak sesuai harapan dia. Akibatnya dia bakalan rugi. Padahal uang bangun rumahnya dari hutang bank. Kalau harus bongkar, uang dari mana lagi. Dia menjelaskan, bahwa ukuran besi kalau ditunggui cuma sekian lonjor. Kalau ga ditunggui jadi tambah banyak lonjornya. Entah tukangnya salah potong atau karena tukangnya ga bisa dipercaya. Si pimpinan manggut-manggut. Okay… malah ngasi saran-saran berdasarkan pengalaman beliaunya si bapak pimpinan. Si bapak rupanya jadi berempati setelah mendengar argumentasi ini. Lupalah dia dengan masalah sebenarnya, yaitu anak buahnya sering madol.

Tak lama, masih dalam ruangan yang sama, si bapak pimpinan berpaling pada saya. Nanya soal web. Mengeluh kenapa webnya jelek, lebih jelek dari instansi lain. Dalam hati gue bilang: yah, kaga tau lah pak. Kan bukan saya yang bikin webnya. Kok komplain ke saya. Mau saya celetukin gitu, tapi tar si bapak pimpinan tambah benci sama saya. Padahal itu fakta lho. Bukan saya yang bikin web lama itu. Ngapain nanya ke saya kenapa jelek.

Saya waktu itu memang lagi bikin web yang baru. Tapi progresnya lambat sekali. Ini karena sama bapak pimpinan yang terhormat, saya sering di suruh dinas luar. Tahun ini saja sekitar 20 surat tugas sudah saya kantongi. Artinya dalam satu bulan rata-rata minimal saya pergi 2 kali. Lah, gimana mau jadi web nya. Belum lagi kerjaan tambahan bantuin kerjaan seksi lain. Aduh… pegimana ini. Bapak kira kerjaan coding web itu semudah bikin combro?

Sialnya lagi, saya gak biasa ngomong gitu. Rata-rata atasan di tempat kerja saya sebelumnya, orangnya smart yah. Jadi kalau ngasi tugas itu dia tau logikanya, beban kerja nih orang berapa task. Sial lah saya yang ga bisa ngecap ini. Lupalah bapak pimpinan ini, bahwa saya sudah pernah memohon diberi waktu untuk bisa konsentrasi ngerjain kerjaan saya. Gak terus-terusan di suruh bantuin kerjaan orang lain.

Lupalah ia bahwa saya sering dia dinaskan ke mana-mana. Pernah beberapa kali saya nolak dinas luar karena sudah keseringan. Disamping kerjaan saya sendiri terbengkalai, suami sudah mulai komplain.

Infentarisasi Lab gak selesai-selesai. Web gak selesai-selesai. Web lama konten jarang update. Jaringan gak tersentuh blas. Suami saya komplain. Saya yang terbiasa kerja sistematis, jadi merasa gak berguna. Padahal saya gak nganggur. Terus bekerja. Tapi kenapa kerjaan saya gak kepegang. Eh, ternyata jam kerja saya kemakan kerjaan buat nyelesaiin kerjaan orang lain. Gak apa-apa sih kalau pimpinannya nyadar dan gak mempermasalahkan terbengkalainya tupoksi saya. Lah ini, orang yang nugasin justeru yang paling sering nyalah-nyalahin. Lupalah bapak pimpinan ini terhadap kontribusi saya itu. Yang diinget adalah, saya yang ga mau di suruh-suruh. Alamak….

Satu lagi hal yang saya kagumi dari kolega saya di kantor. Yaitu “kebijaksanaan” yang dianut. Lebih baik berkomentar, berpendapat dan menjawab pertanyaan. Meskipun tidak menguasai bahan pembicaraan. Meskipun bukan bidangnya. Meskipun bukan kerjaannya.

Melihat itu, saya cuma bisa kaya orang gagu terkagum-kagum. Misalnya soal pengembangan IT, tanpa melihat fakta apa latar belakang pendidikannya, memberikan masukkan pada pejabat. Sialnya, yang dia diberikan cuma sebatas ide. Kenapa? Karena jangankan belajar teori analisis sistem, coding saja baru mau belajar. Masih cari les-lesan. Saya gak masalah sebetulnya dia mau ngomong gitu. Memang bisa buat bahan mengesankan pimpinan (yang ga paham IT). Tapi, permasalahannya, gue yang disuruh implementasi codingnya. Idenya dari dia. Gundulmu…. (ups). Kalau elu bisa, coding sendiri sono. Kalau sudah jadi karya, itu baru namanya solusi.

Kalau cuma ide, banyak bung. Saya juga punya ide-ide terhadap permasalahan IT di kantor. Karena itu ranah saya. Tugas saya. Tapi permasalahannya bukan karena gak ada ide. IT kantor gak berkembang karena gak ada SDM yang benar-benar fokus nangani itu. Saya yang bertanggung jawab masalah ini, tapi malah sering ditugaskan mengerjakan pekerjaan lain. Kalau nolak karena pengen fokus ngerjain tupoksi, dicap bawahan yang suka membangkang.

Solusinya gimana? Berikan saya waktu. Penuhi pengajuan analisis pengadaan hardware. IT is about 3 things: brainware, hardware and software. So simple. Tapi butuh komitmen dari semua pihak.

Kalau sadar kantor belum bisa setara lembaga lain dalam hal penerapan IT, jangan cuma ngiler dong. Ikuti jejak mereka yang serius. Bukan cuma mulutnya aja bilang pengen nerapin IT. Nuding bawahan yg tugasnya ngawal IT, nyalah-nyalahin kenapa kok gak maju-maju IT nya. Tapi lupa, bahwa masalah ini sering kali gak jadi prioritas. Pengajuan hardware Februari sampai mau masuk bulan September belum ada juga barangnya. OMG.

Pimpinan nyuruh ngembangin IT. Tapi brainwarenya disuruh jadi panitia keliling daerah. Akibatnya pengembangan softwarenya ga jadi-jadi. Hardwarenya gak kunjung dibeliin. C’mon… are u dumb?

Itu yang tadi saya bilang. Ngomong A, maksudnya B yang dilakukan C.

Mungkin ini catatan versi paling evil saya. Biarlah. Faktanya demikian.

 

Posted in Moms Stuff

Rapat Walimurid Pertama

Minggu lalu sebelum berangkat dinas ke kota Surakarta, saya menghadiri undangan rapat wali murid untuk pertama kali. Karena acara itu dilaksanakan di hari kerja yaitu hari Jumat, maka saya mengajukan ijin ke atasan untuk tidak masuk selama satu hari. Saya pikir, tak mengapalah. Setelah lebaran kemarin, saya dinas di kota Malang 10 hari. Hari Sabtu dan Minggu masuk. Tanpa jeda, lanjut terbang ke kota Banjarmasin. Sabtu dan Minggu juga masuk. Total sudah 3 minggu saya tidak libur hari Sabtu dan Minggu.

Hari Jumat tanggal 12 Agustus, saya sengaja meluangkan waktu menghadiri rapat wali murid pertama kali. Beginilah cara saya menjaga hidup tetap seimbang. Kadang kala urusan berbakti pada negara ada di prioritas pertama. Kadang di urutan kedua setelah keluarga. Akhir-akhir ini, saya lebih suka menyebut pekerjaan saya ini sebagai abdi negara dari pada pegawai kantoran. Tugas saya mengabdi pada Indonesia. Bukan mengabdi pada pemerintah, apalagi birokrat di kantor saya. Saya sedang belajar. Baru 2 tahun. Belum sepenuhnya melakukan yang terbaik.

Okay kembali ke topik. Saya bersama si kecil datang ke sekolah tepat pukul 7. Anak saya alhamdulillah setelah 1 bulan, sudah nyaman dengan guru-guru pengajarnya. Setelah salim tangan saya, si kecil langsung masuk ke gebang sekolah sendiri. Saya melihatnya dengan bangga. Bagi saya dengan usianya yang baru 3 tahun 11 bulan, rasa percaya diri anak saya sudah baik sekali. Penilaian ini saya dasarkan bukan dengan membandingkannya dengan anak orang lain. Saya membandingkan dengan diri saya sendiri sewaktu kecil. Waktu usia 3 tahun, saya belum sekolah. Saya sekolah hampir memasuki umur 5 tahun. Itupun kata si mbah yang nganter ke sekolah, saya nangis-nangis. Jadi bisa disimpulkan, anak saya ini sudah lebih hebat dari bundanya🙂

Setelah anak saya masuk kelas, saya melangkah menuju ruang rapat walimurid. Ruang rapat itu berupa selasar teras masjid. Memang sekolah anak saya berada satu kompleks dengan masjid. Yayasan yang menaungi sekolah anak saya, juga merupakan yayasan pengelola masjid.

Ketika jam menunjukkan pukul setengah delapan, wali murid sudah banyak yang berkumpul. Kepala sekolah yang masih muda, mungkin seumuran saya, memimpin jalannya rapat. Ada beberapa catatan saya tentang kurikulum di sekolah, dan juga beberapa agenda penting tahun ajaran ini.

Pertama tentang kurikulum, sekolah anak saya ini sebetulnya sudah bagus. Menganut kurikulum nasional untuk Paud(KB) dan TK. Di kurikulum itu tidak ada yang namanya calistung. Namun, karena tuntutan beberapa walimurid sendiri yang ingin anaknya diterima di beberapa sekolah negeri favorit, maka mereka ingin anaknya diajarkan calistung. Sekolah nampaknya memiliki pengalaman pernah disalahkan oleh warimurid yang anaknya tidak diterima di SD/MIN favorit. Sehingga mpihak sekolah pada akhirnya mengajarkan calistung.

Dari situ saya mengambil kesimpulan, bahwa anak saya nantinya juga akan dijarkan calistung. Saya sendiri tidak merasa keberatan. Mengapa? Hanya supaya tahu dan pernah mendengar saja. Saya tidak akan mengharuskannya supaya bisa. Saya membebaskannya belajar apa saja.

Namun ada beberapa aspek yang saya tekankan anak saya harus mampu.

  1. Mengamalkan doa-doa harian. Belum lancar hafal tidak mengapa, yang penting mengamalkan. Insyaallah lama kelamaan akan hafal. Jadi dalam hal doa harian, targetnya si kecil adalah bukan menghafal tapi mengamalkan.
  2. Ada 2 surah yang saya ingin dia hapal, Alhamdulillah sudah kenal sejak umur 2 tahun walaupun kadang masih lupa sepotong-sepotong. Yaitu Al Fatihah dan Al Ikhlas.
  3. Ada 2 hadist yang saya ingin dia pahami, yaitu hadist tentang berbuat baik dan menahan marah.
  4. Ada ketrampilan motorik yang saya ingin ia kuasai pada umur menjelang 4 tahun ini. Yaitu motorik halus menarik garis lurus dan lengkung.
  5. Ada keterampilan verbal yang saya harap dia kuasai di akhir pembelajaran paudnya, adalah keterampilan mengungkapkan perasaan. Rasa marah, sedih, senang. Selama ini dia sudah melakukannya dengan baik jika bersama saya. Namun bersama pembantu atau ayahnya masih kurang. Saya berharap, dengan bertemu guru – gurunya, ada hal yang bisa dia pelajari dan kembangkan terkait hal ini.
  6. Ada life skill yang anak saya bisa tingkatkan. Lebih mandiri dalam hal kebutuhan domestiknya sehari hari. Mengambil makanan/minuman sendiri. Mengelap tumpahan bekas makanan/minumannya. Dan memberesi mainan sendiri. Di sekolah pasti dilatih. Sedangkan di rumah, pembantu selalu melayani si kecil kalau saya tidak ada.

Saya akan menuliskan di buku penghubung anak saya target-target ini. Jadi gurunya tahu apa yang saya harapkan sebagai orang tua. Saya akan menyampaikan ke gurunya, bahwa saya tidak akan menyekolahkan anak saya di SD yang mengharuskan anak saya bisa ini itu untuk diterima. Saya lebih ingin anak saya bertambah mandiri dan kreatif dari pada pinter berhitung.

Untuk fungsi kognitif, insyaallah saat otaknya telah tumbuh sempurna nanti, fungsi kognitifnya akan berjalan seperti sunatullahnya. Dia akan cinta membaca karena dari umur 8 bulan sudah saya kenalkan pada buku-buku. Saya dan ayahnya adalah orang yang hidup dengan mengandalkan cara kerja otak kiri. Maka insyaallah buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya. Malah saya ingin, di sekolah dia lebih banyak belajar cara menjadi kreatif dan mandiri dalam memecahkan masalah.

Itulah catatan singkat saya setelah rapat wali murid pertama. Menulis di buku penghubung, merupakan pengalaman emosional. Saat saya merasa sangat beruntung dan bahagia, sudah jadi orang tua.

 

 

Posted in Makaryo

Team Work

Saya bukanlah orang yang suka bersosialisi. Sok pede dan sok akrab mingling sama orang yang baru dikenal bukan habit saya. Namun, jika sudah benar-benar klop, saya akan sering main ke rumahnya. Mengajak dia ke rumah saya. Tau hampir semua anggota keluarganya dan mengenalkan kedua orang tua saya. Teman saya hanya dalam hitungan jari. Tapi saya menyayangi mereka, meskipun saat ini kami hanya bisa bersua dalam doa-doa.

Di transkrip ijazah S1 saya, ada 1 nilai C. Nilai itu diberikan oleh Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan yang juga adalah dosen pengampu mata kuliah Perilaku Dalam Organisasi. Karena nilai itu saya gak jadi dapat predikat Summa Cum Laude dari STIKI. Meskipun tetap lulus 3.5 tahun. Satu semester lebih cepat dari seharusnya. Bapak Waka Kesiswaan menilai saya kurang cakap Berperilaku Dalam Organisasi.

Ketika saat ini saya ternyata digariskan Allah untuk bekerja di Instansi Pemerintah yang tugasnya menyelenggarakan pelatihan (Training Center), saya dituntut bisa bekerja tim. Kantor saya sering sekali menyelenggarakan event. Setiap event pasti ada panitianya. Dan yang namanya panitia, pasti team work. Sungguh saya terkejut dengan diri sendiri. Tidak menyangka bisa. Tidak menyangka mau.

Jika saya tidak ingat bahwa saya ingin ilmu saya bermanfaat, ingin bisa ikut berbuat sedikit untuk dunia pendidikan, ingin ikut turun tangan, sungguh saya akan lebih sering merasa ingin resign dari lingkungan yang membuat saya tidak nyaman ini. Mungkin suatu saat saya akan resign. Tapi bukan karena saya give up atau kalah dari masalah.

Alhmadulillah, alhmadulillah, walhamdulillah.

Saya dapati sering kali justru merasa enjoy bekerja satu tim dengan orang-orang yang terpinggirkan. Orang-orang yang diremehkan atasan mereka sendiri. Orang yang katanya gak bisa kerja. Ingat ya, saya ulangi GAK bisa kerja. Bukan gak mau. Saya dapati, orang yang katanya gak bisa kerja itu ternyata mereka bisa kerja juga asalkan diberikan instruksi yang jelas, contoh yang nyata, praktek sambil diarahkan beberapa kali. Lebih dari itu semua, mereka perlu dipercayai.

Saya terkejut bahwa pada suatu kondisi kekurangan SDM, saya mampu membagi pekerjaan dengan tanggung jawab kontrol tetap di saya. Saya suka mengatur pekerjaan ini di kerjakan oleh siapa dengan cara bagimana. Di tim itu, bahkan seandainya terjadi kegagalan pun saya akan bisa jelaskan apa masalahnya dan mencari alternatif solusi. Karena saya tau awalnya, permasalahannya, dan how to breakdown the work order.

Namun, tidak semua kerja tim saya berhasil. Beberapa pekerjaan gagal, bahkan saya frustasi karena jadi sansak salah-salahan.

Itu ternyata saya sadari belakangan, kegagalan kerja tim itu justru saat saya bergabung dalam satu tim dengan orang-orang  yang dianggap orang lain pintar. Yang katanya best of the best team. Saat itu saya malah merasa tim tidak kompak, tidak saling percaya, saling sikut, saling curi ide. Dan tidak menghasilkan karya yang bermanfaat. Hanya sekedar memenuhi  hasrat menyenangkan atasan. Saya benci berada di tim seperti itu, apapun pekerjaannya.

Saya tidak peduli apakah itu pekerjaan bergengsi di depan Menteri atau Jendral Pethak sekalipun, saya lebih suka walk out. Menyingkir…. Biarlah dianggap gak bisa kerja, gak mau bantu, ini itu oleh atasan saya sendiri. Saya tidak membutuhkan pengakuan dari orang yang tidak kompeten di bidang saya. Saya gak berharap semua orang menyukai saya. Saya juga gak harus menyukai semua orang.

Saya juga sering mempertanyakan pekerjaan yang dilakukan tidak efisien. Saya membuka diskusi, tapi jika yang dibicarakan adalah alasan tidak masuk akal, opini bukan fakta, saya juga cenderung tidak respek. Saya beri kesempatan satu, dua dan tiga kasus. Setelah keempat, terulang hal yang sama, saya juga jadi kurang respek sama pimpinan tersebut. Apalagi jika berulang-ulang antara apa yang diomongkan sama yang dilakukan berseberangan.

Sombong kah saya? Saya lebih suka menyebut itu sebagai sikap kritis, tidak “Yes Man”.

Saya bukan orang yang pintar berorganisasi, tapi saya telah membuktikan pada diri saya sendiri bahwa saya bisa bekerja tim. Asal profesional. Tujuannya yang ingin dicapai jelas, bermanfaat, dan rekat satu timnya bisa dipercaya.

Ini saya. Boleh jadi benar, bisa jadi salah.

 

Posted in Makaryo

Antara Integritas dan Pencitraan

Integritas, secara sederhana bisa diartikan sebagi satunya perbuatan dan tindakkan. Ngomong “A” dilakukan “A”. Ngomong “B” dilakukan “B”.

Pimpinan yang berintegritas begitu dirindukan oleh bawahan. Karyawan berintegritas dicari oleh perusahaan.

Pencitraan merupakan wujud kebaikan yang memiliki tujuan agar orang lain menilai positif dan menaruh kepercayaan. Karena sifat ini tidak asli (artificial/dibuat-buat), maka biasanya tidak akan bertahan lama. Setelah tercapai tujuannya, sifat aslinya akan muncul. Tidak ada orang yang bisa berpura-pura seumur hidup.

Berbuat baik, dari hati, hidup lurus, satu perkataan dan perbuatan. Kebaikan-kebaikan itu pasti akan berbuah manis. Entah di dunia, atau hidup setelahnya.

Posted in Ibu Bekerja

Sepasang Sayap

Saya rasa banyak orang sepakat, bahwa berusaha jadi orang baik diberbagai situasi itu tidak mudah.

Masihkah sanggup mempertahankan ahlaq terpuji saat Anda diperlakukan tidak adil? Saat ide Anda di jiplak? Saat hak Anda di rampas? Saat Anda dikhianati atau ditipu?
Manusia cenderung mudah berbuat baik kepada orang yang juga baik padanya. Terhadap orang yg berbuat jahat, manusia cenderung lebih mudah berbuat sama jahatnya.

Sepertinya dalam hal berproses menjadi lebih baik, manusia harus belajar dari ulat bulu. Meskipun masa hidupnya tergolong singkat, ia mampu bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang cantik. Mungkin, seperti itulah seharusnya manusia berproses dalam hidupnya. Meskipun sulit atau sakit, manusia yang mampu terus bertumbuh menjadi lebih baik akan bahagia di akhirnya.

Ahlaq yang baik itu, meskipun tidak selalu langsung bisa dilihat dampaknya, dinikmati hasilnya, tetap akan membawa siapa saja yang melakukannya kepada kebaikan. Permasalahannya, untuk bisa terus menjaga ahlaq baik, diperlukan stok sabar yang luar biasa besar.

Menahan diri untuk tidak marah meskipun bisa marah. Menahan diri untuk tidak berharap pada selain Allah, meskipun ada mahluk atau benda yang terlihat bisa jadi sandaran. Menahan diri untuk tidak selalu ingin dipuji, meskipun bisa melakukan suatu pekerjaan dengan baik. Semua itu sulit. Bahkan untuk selalu yakin bahwa kebaikan akan selalu berbuah baik itu saja, tidak selalu bisa.Begitulah beberapa manusia di uji Bab Kesabaran.

Saya pagi ini, sejak sebelum subuh sudah harus berangkat dari rumah, untuk dinas ke luar kota selama 10 hari. Tadi di perjalanan dari rumah menuju meeting point, saya melewati UGD RSUD. Hati saya trenyuh. Wajah lelah dan khawatir melingkupi orang-orang di sana.

Saya kemudian jadi merasa beruntung. Bersyukur tidak diuji dengan hilangnya nikmat sehat. Masalah lain jadi ringan. Yang penting diri ini dan semua keluarga sehat. Merasa lebih beruntung kemudian bersyukur.

Memang betul adanya bahwa sayap seorang mukmin itu harus sepasang: Sabar dan Syukur.

Meskipun, kemudian saya tersadar akan adanya permasalahan selanjutnya. Bebalnya saya, baru bisa merasa bersyukur setelah melihat ada orang lain yang saya sangka lebih menderita. Padahal napas saya gratis. Detak jantung saya gratis. Kedipan mata gratis. Duh Allah. Ampun.

Posted in Makaryo

Ironi

Suatu sore sepulang kerja saya melewati sebuah lokasi persawahan. Di atasnya berdiri tower listrik tegangan tinggi dengan kabel sambung menyambung. Tepat di bawah juntaian kabel itu berdirilah beberapa spanduk yang diikat pada bilah bambu. Tertulis: Safe Regency. Ya, nampaknya lokasi persawahan itu akan segera jadi kapling-kapling rumah baru. Di bawah tower jaringan listrik tegangan tinggi. Nama perumahannya mengandung kata “safe” yang artinya aman. Saya melihat ini sebuah ironi yang lugu. Bagaimana mau aman kalau rumahnya dibawah tower listrik tegangan tinggi?

Pemandangan ini mengingatkan diri saya akan ironi lugu lain yang dekat sekali dengan hidup saya saat ini. Saya jadi PNS niatnya pengen berbuat sesuatu buat negeri, tapi pada kenyataannya ada beberapa tugas yang saya tolak. Sebagian karena saya tidak mau. Sebagian karena saya memang tidak bisa. Ironi. Bagaimana mau berbuat sesuatu untuk negeri, kalau PNS dikasi surat tugas tidak mau berangkat?

Saya hanya seorang manusia sederhana. Bingung dengan segala drama yang dimainkan oleh orang-orang di sekeliling saya akhir-akhir ini. Merasa gagap dan gagal paham alur berpikir rekan kerja dan juragan.

Sampai akhirnya saya dapat pencerahan setelah nonton film Rudy Habibie. Apa itu? Soulnya orang teknik itu Problem Solving. Faktanya apa. Masalahnya apa. Lalu berpikir solusinya bagaimana.

Belasan tahun gaul sama orang teknik, sangat mempengaruhi cara kerja otak ini. Ketika orang lebih lama membahas dan menceritakan masalah, membuat drama-drama, saya bingung karena faktanya mulai nge-blur. Masalah sebenarnya juga mulai nge-blur. Terlalu banyak drama.

Solusi bukanlah prioritas untuk dicari. Daya serap dan daya serap selalu setiap hari. Dinas luar wara wiri adalah prestasi. Dan bukan kompetensi, yang penting eksis. Tak peduli tugas pokok dan fungsi. Tak perduli sasaran kinerja pegawai. Masa bodo analisis beban kerja. Masa bodo efisiensi dan efektifitas. Tak ada objektifitas penilaian kinerja, subjektifitas. Mesti multitalenta katanya, biar juragan seneng. Kalau perlu bisa diajak karaoke.

Saya belum bisa berbuat banyak untuk ibu pertiwi. Saya hanya berjanji tidak akan mau berangkat perjalanan rapat2 dinas, yang cuma buat menambah daya serap. Biarlah…. Saya gak disukai juragan. Gak dianggep berpestasi. Biarlah….

Saya selalu ingin mengkritisi masalah perjalanan dinas ini. Haruskah sedikit-sedikit pertemuan di hotel, saat teknologi video converence sudah ada. Yang hanya dengan bayar 1 juta per titik, bandwidth 1MB per titik, saluran video converence sudah bisa dinikmati 24 jam sehari, 7 hari seminggu non stop.

Benar saya punya kepentingan pribadi dalam opini ini. Putri kecil saya tidak rela ibunya sering perjalanan dinas ke mana-mana. Boleh lah kalau misalnya tiga bulan sekali pergi, lah ini…. tuntutannya kadang satu bulan non stop. Oh Em Ji….

Hati nurani saya selalu bilang. Something’s going wrong.

Serasa melihat orang ramai-ramai menyeberang sungai yang arusnya tenang dan nyaman. Tapi saya gak mau ikut nyebur dan berjalan ke seberang. Sesuatu dalam diri saya bilang: ada yang salah. Tapi belum tahu pasti bagaimana bersuara menjelaskannya. Rekan kerja menganggap saya aneh. Juragan mengatakan saya tidak loyal karena tidak mau nyebur padahal sudah diperentah oleh mereka untuk buruan nyebur.

Ini kegelisahan saya. Bisa jadi benar, bisa jadi salah.

Masalahnya, berdasarkan pengalaman kerja saya sebelumnya, yang pindah-pindah instansi itu. Yang kalau di kalkulasi adalah 5 tahunan. Saya merasa dapat pelajaran berharga. Yakni: jika hidup seseorang tidak berkualitas, maka ia tidak akan menghasilkan karya yang berkualitas. Jika karyawan tidak memiliki waktu seimbang untuk pekerjaan, keluarga dan juga waktu untuk mengembangkan diri, hanya dituntut sendiko dawuh, maka bisa dipastikan ia tidak akan melahirkan karya yang berkualitas. Jikapun ada, harga yang harus dibayar akan sangat mahal. Kehilangan banyak waktu untuk orang tercinta. Bisa jadi, malah kehilangan cinta mereka.

Beberapa orang saya dengar berargumen, PNS laksana tentara. Harus siap ditempatkan di mana saja. Harus siap berangkat kapan saja. Saya lalu bertanya, apakah tentara yang harus bersedia ditempatkan di mana saja itu ada yang berjenis kelamin perempuan? Berapakah jumlahnya? Apakah dalil ini bisa dipakai?

Entahlah, kegelisahan saya ini bisa jadi benar. Bisa jadi juga salah.

Tetap berkarya sesuai tugas pokok dan fungsi, itulah satu-satunya pegangan saya saat ini. Terus ingin mengembangakan diri sesuai potensi saya, berbuat yang terbaik dengan potensi itu. Masalah juragan seneng apa enggak biar saja. Saya memang gak bisa karaoke.

🙂

 

Posted in Makaryo

Berperan sebagai korban atau pelaku?

Masih jelas di memori bangsa Indonesia, saat ada seorang ibu pemilik warteg digrebek oleh satpol PP karena ia berjualan saat ramadhan. Padahal, itu dinilai melanggar Perda. Ramai-ramai orang berkomentar, bahkan ada yang menggalang donasi sampai terkumpul ratusan juta. Saya mau ikutan membahas masalah ini, karena baru-baru saja mengalami kejadian yang serupa tapi tak sama.

Jadi ceritanya, memang di dunia ini ada orang-orang yang sudah mahir berperan sebagai “korban”. Apapun kondisinya, sekalipun dia keliru, dengan keahliannya, orang lain bisa melihat ybs sebagai korban.

Sayangnya, orang di Indonesia masih sangat baperan. Kenapa saya bilang begitu? Mau bukti? Ya itu tadi. Cerita ibu warteg itu. Orang tanpa tahu ujung dan pangkal kejadian, hanya berbekal melihat sebuah video di sosmed, menggalang dana bantuan kepada “korban” sampai terkumpul ratusan juta. Terbawa perasaan kasihan.

Padahal, dalam sudut pandang peraturan daerah tsb si ibu adalah pelaku. Berjualan di siang hari bulan Ramadhan. Saya tidak mau komen soal PERDA ini. Di Bali juga ada PERDA soal Nyepi, yang semua orang bali dan non bali diharuskan taat. Mungkin di Merauke sana juga ada, yang mengatur soal pelaksanaan kegiatan di hari Minggu.

Kejadian balada “korban dianiaya pelaku” seperti ini bisa bertambah celaka lagi, kalau terjadi di lingkungan yang ikatan emosi sosialnya tinggi. Yang ciri-cirinya, dinding saja punya telinga.

Hati-hatilah jika Anda bertemu dengan orang yang ahli berperan sebagai “korban” di lingkungan tersebut. Bisa-bisa Anda akan “dihakimi” massa tanpa perlu tahu duduk perkaranya. Percaya sajalah… karena saya sudah mengalaminya.

Ini membuat saya mikir (gaya cak lontong). Kenapa terdampar di lingkungan seperti itu. Tapi diluar nature saya sebelumnya, yang cenderung ingin menghindari konflik, saya mau tumbuh. Saya mau melakukan sesuatu dengan benar. Toh jika hal buruk terjadi, Allah selalu menyiapkan kebaikan setelahnya. Bahwa hal yang baik akan selalu baik akhirnya. Tidak pernah meleset.